Dua tahun silam, topik ini sudah muncul ke permukaan. Sangat menarik, sebab Pak Harto (Presiden ke-2 Indonesia) adalah sosok fenomenal. Ia memerintah selama 32 tahun, yang biasa kita sebut Orde Baru.
Angka 32 bukan angka biasa bila berhadapan dengan sistem pemerintahan. Akan sangat banyak hal dalam suatu pemerintahan dapat dilakukan selama 32 tahun itu.
Angka 32 juga bukan angka biasa bila berhadapan dengan perkembangan intelektualitas manusia dalam suatu negara. Akan banyak hal dapat dipondasikan di sana.
Fenomenalitas dan lamanya Pak Harto
berkuasalah yang membuat topik ini menarik untuk dicermati.
Kita bisa menilai kepantasan mempahlawankan Pak Harto dari berbagai sudut pandang. Misalnya, sistem pemerintahan, agama, moral, dan kewargaraan.
Saya mau melihat dari sudut pandang moral. Kriteria kephlawanan dari sudut pandang moral adalah kebaikan, tidak cacat moral.
Suatu tindakan moral dilihat dari intensi/tujuan, tindakan, dan akibat dari tindakan. Suatu tindakan dikatakan baik jika tujuannya baik dan benar, dilakukan dengan cara yang baik dan benar, dan akibatnya baik dan benar.
Misalnya, saya membantu seorang nenek untuk menyeberang jalan. Tujuan saya adalah menyeberangkan nenek tersebut demi si nenek. Maka tujuan baik. Kemudian saya menyeberangkan nenek tersebut dengan menuntun dan memegang tangannya. Nenek tersebut baik-baik saja. Bisa juga saya menggendongnya, hasilnya nenek itu tidak apa-apa. Maka tindakan ini baik dan benar, karena tidak memunculkan cacat pada si nenek. Kemudian hasil dari tujuan dan tindakan saya mengakibatkan si nenek tersebut berada di seberang jalan dengan selamat dan tidak ada cacat sedikitpun, maka tindakan saya baik dan bisa dikatakan bermoral.
Lain hal, jika saya melakukan itu dengan tujuan agar orang melihat saya baik, atau pacar saya melihat saya baik. Jadi tujuan ini tidak baik karena saya hanya menjadikan si nenek alasan, bukan arah tujuan.
Juga bila saya menyeberangkan si nenek dengan mendorong atau menariknya, yang menyebabkan si nenek di tabrak mobil atau motor, atau si nenek merasakan sakit. Si nenek bisa saja sampai ke seberang jalan, tapi sudah terluka karena ditabrak mobil. Atau sampai ke seberang, tapi tangannya terkilir karena saya tarik. Maka tindakan saya tidak baik dan benar.
Juga jika si nenek sampai di seberang dengan merasa sakit atau terluka maka tindakan saya tidak bisa dikatakan bermoral.
Nah kembali ke Pak Harto. Silakan Anda menilai tindakan moralnya seperti contoh di atas, apakah bermoral atau tidak. Setelah itu, Anda sendiri yang memutuskan apakah ia pantas menjadi pahlawan atau tidak.
Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s