Korban Sejarah

 

Kerusuhan 98

Kerusuhan 98

Saya menulis ini bukan dalam kapasitas sebagai sejarawan atau psikolog. Siapalah saya di antara para pembaca yang terhormat, yang jauh melampaui kemampuan saya. Saya juga bukan pengamat, analis, apalagi penulis. Saya hanya seorang anak kampung, yang lahir dalam keluarga sederhana, yang punya kata-kata terbatas untuk mengungkapkan sejuta rasa, angan-angan dan mimpi. Dan terakhir yang suka baper (bawa perasaan)…..

OK! Mari kita masuk dalam ke-baper-an ini.

Tahun 97-98 adalah masa di mana saya merasakan kegembiraan dan kebahagiaan sebagai seorang anak beranjak remaja (umur 11 tahun), yang lebih besar dari adik Intan, korban bom Samarinda. Ketika itu saya masih asyik-asyiknya bermain bersama teman, menggembalakan kerbau, menikmati indahnya Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir (yang tidak lahir dan besar di sana, pasti pengen ke sana). Yah…. Itu adalah masa-masa yang indah.

Tepat ketika saya merasakan keindahan dan keceriaan itu, tahun itu pula negara kita dilanda krisis moneter, maraknya penjarahan dan pemerkosaan, kekerasan, dan getirnya perjuangan demokrasi. Seingat saya seperti itu, karena masih segar dalam ingatan saya waktu itu ketika kami harus makan nasi jagung (nasi dan jagung dimasak bersamaan dalam satu wadah untuk mengurangi kebutuhan beras dengan perbandingan 2:3, 2 mok beras dan 3 mok jagung) pada siang hari dan makan singkong rebus (ubi kayu) pada malam hari sebelum makan nasi. Getir… Itulah yang saya rasakan waktu itu.

Tapi saya sadar bahwa kegetiran itu belum seberapa dibandingkan korban kekerasan, penjarahan dan pemerkosaan di berbagai kota waktu itu. Saya tahu itu karena menonton TVRI, televisi nasional yang waktu itu terkenal dengan pro-pemerintahannya. Saya tahu pro setelah saya memperoleh informasi ketika saya beranjak remaja dan dewasa bahwa lebih banyak informasi yang disembunyikan.

Bom Bali

Bom Bali

Kemudian setelah saya beranjak remaja sampai dewasa, kembali kegetiran itu muncul dan lebih parah. Muncul kembali peristiwa yang sebelumnya belum marak, yaitu bom. Mulai dari bom Bali I, bom Bali II, bom di Jakarta, peristiwa Sampit, Poso, GAM, dan lain-lain. Kenapa menjadi kegetiranku juga? Karena saya anak bangsa ini, Bangsa Indonesia. Bangsa yang memelukku erat-erat, menimangku dengan lembut, dan menopang hidupku. Yah …… Dan saya harap kegetiran ini juga kegetiran pembaca anak bangsa Indonesia ini. (Aku baper lagi dech…… Jadi sedih tau…..)

Sekelumit sejarah itu dalam sepanjang perjalanan hidupku terpatri dalam-dalam ……

Untuk apa aku ceritakan semua ini untuk pembaca?

Sekelumit apa pun sejarah hidupmu akan menentukan dirimu, cara berpikirmu, bertindak dan masa depanmu. Saya kurang tahu ini teori siapa dan teori ilmu apa. Yang jelas bahwa masa lalu adalah pengalaman, entah baik entah buruk.

Gambaran sejarah kelam itu terus menghantui diriku. Pengalaman sejarah kelam itu mengubah mindset-ku tentang manusia dan sesama. Entah prosesnya seperti apa, bahwa untuk memperoleh kekuasaan dapat dilakukan dengan kekerasan, masih terngiang dalam benakku; membom adalah salah satu cara terbaik membumi hanguskan orang-orang yang berseberangan denganku; perang adalah solusi dalam perbedaan; dan masih banyak lagi, yang dipatri sejarah kelam yang terjadi di negeri ini di dalam diriku dan saya yakin juga banyak orang.

Banyak orang? Loe aja kaleee…. Bukan hanya saya. Lihatlah orang-orang yang sudah terbukti korupsi, mereka pasti angkatan yang tumbuh dewasa di bawah budaya korupsi yang seolah halal waktu itu. Lihatlah juga pembom adalah orang-orang yang mengalami hal yang sama di negara lain. Dan lihatlah sekarang, angkatan-angkatan yang tumbuh dalam situasi tertentu akan melakukan hal yang sama ketika mereka punya kemampuan melakukannya.

Bagaikan oase di tengah padang gurun, melegakan dan menghidupkan....

Bagaikan oase di tengah padang gurun, melegakan dan menghidupkan….

Untunglah, dalam perjalanan sejarah itu, selalu ada orang-orang yang meluruskan sejarah itu. Meluruskan maksudnya adalah mencari makna dari kegetiran paling getir sekalipun. Bagaikan oase di padang gurun. Melegakan dahaga kehausan pengalaman akan kebaikan.

Saya Katolik, sehingga aku dididik dengan ajaran Katolik. Waktu itu, ada satu ajaran yang selalu diajarkan padaku, yaitu ‘Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.’ (Mat 5:44 dan Luk 6: 27 & 35) (Saya tidak sedang mengkristenkan pembaca yang non, tetapi memang itulah yang diajarkan waktu itu. Saya yakin, entah dengan rumusan yang sama atau tidak, agama lain pasti punya ajaran yang sama baiknya)

Maksudnya demikian selalu dijelaskan kepadaku. Siapa pun orangnya, kasihilah, bahkan mereka yang membencimu, dan berdoalah bagi mereka. Sebenarnya maksud lebih sederhananya adalah perbuatlah selalu kasih, cinta, di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun. Inilah perisai, pedang, dan benteng pertahananku sejak dulu sampai sekarang.

Apakah sudah saya realisasikan ajaran itu dengan baik? Belum! Lah kog belum sih….? Karena hidupku belum selesai. Tapi bukan itu intinya. Ajaran itu telah menjadi perisai, pedang, dan benteng pertahananku terhadap kelam dan kejamnya sejarah.

Mari kita melindungi generasi bangsa ini dengan perisai ajaran yang melembutkan, bukan kebencian terhadap sesama. Persenjatai hati mereka dengan sejuta keindahan pedang iman, bukan kekerasan dan kejahatan. Mari kita dirikan benteng kebaikan di sekeliling mereka, bukan sumpah serapah dan laknat. Mari kita sirami negeri ini dengan keharmonisan dan keindahan di tengah perbedaan, bagaikan oase kecil di tengah pada gurun.

Tolong jangan gagal fokus....... Itu bukan saya!!!!

Tolong jangan gagal fokus……. Itu bukan saya!!!!

Jujur kalau itu terjadi, itu seperti saya kembali ke masa ketika saya menikmati Danau Toba dari puncak bukit Pulau Samosir……..

Ingat, orang baik dan benar bukan orang yang diam tak berkata apa-apa dan tidak berbuat.

Teriring doa dan salam.

Tulisan ini pertama kali dipublish di seword.com dengan penulis yang sama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: