Tiba-tiba saya berterima kasih. Loh kog …? Itulah mungkin pertanyaan yang muncul dari benak Anda masing-masing. Ada …. apa yang menghinggapi orang ini? Mungkin juga itu ekspresi Anda.

Tapi kalaupun tidak beranggapan demikian, tidak apa-apa. Mungkin aku saja yang terlalu baper (bawa perasaan). Hahahahaha…….

OK! Mari kita masuk ke inti dari terima kasih ini. Siap-siap, ini akan panjang…………..

Kenapa dimulai dari SBY? Dari yang ‘lebih berpengalaman’ donk…. masak dari amatiran……..

  1. Terima kasih SBY

SBY=Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden keenam Indonesia

SBY=Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden keenam Indonesia

SBY adalah presiden keenam Indonesia. Jadi bukan mantan (maaf mas Alif, saya koreksi, gak tega sebut mantan). SBY telah memerintah Indonesia selama sepuluh (10) tahun. Beliau telah mengajari kita bagaimana sebuah kesantunan seorang pejabat pemerintahan. Pemerintahan SBY juga mengajarkan kita bahwa pemerintah bermurah hati dengan memberi BLT (Bantuan Langsung Tunai, kalau tidak salah), sekalipun itu dari hutang luar negeri. Pemerintahan SBY telah memancangkan budaya menyampaikan pendapat massa dengan demo dan didengarkan oleh pemerintahan SBY dengan menggagalkan kenaikan BBM waktu itu.

Bahwa ada kegagalan-kegagalan, seperti wisma atlet Hambalang, penyelesaian kasus Century, TPF Munir, mangkraknya 34 pembangkit listrik dan yang lain, adalah fakta bahwa SBY dan kabinetnya bukanlah malaikat yang sempurna, jadi itu manusiawi. Kalau sekarang pemerintahan tidak sempurna, itu masalah besar. Masak belajar dari kegagalan masa lampau… iya gak?

  1. Terima kasih Fadli Zon

Fadli Zon

Fadli Zon

Satu yang sangat saya pelajari dari Fadli Zon adalah selalu ada jawaban atas pertanyaan apa pun, baik di bidang politik, finansial, infrastruktur, dan agama. Ini sangat luar biasa. Di bidang politik, Fadli Zon begitu lihai menjawab banyak pertanyaan ketika Pilpres 2014 yang lalu; ia juga mampu menjawab kekalahan Prabowo waktu itu dengan jawaban yang menenteramkan (meskipun waktu itu harus maju ke Mahkama Konstitusi); dan masih banyak pertanyaan politis yang mampu ia jawab dengan seolah tuntas dan tepat. Ia begitu getolnya berkomentar ketika pemerintah DKI diduga mengalami kerugian pada kasus Sumber Waras, begitu luar biasa. Kritiknya atas pembangunan infrastruktur pada pemerintahan Jokowi yang menunjukkan bahwa pemerintahan Jokowi belumlah sempurna, cukup menusuk. Dan terakhir soal agama; dia begitu paham akan surat Al-Maida 51, sampai dia ikut aksi damai bela Al-Quran dan Ulama dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Sungguh luar biasa.

Coba pikir, dia lulusan apa sampai-sampai ia bisa menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan menanggapi pernyataan dan pendapat semua orang. WOW. Super, sungguh super!

  1. Terima kasih Fahri Hamzah

Sebenarnya, kemampuan Fahri Hamzah hampir setara dengan Fadli Zon. Hampir semua sama, karena mereka selalu sejalan dan berpendapat dan berpandangan (sudah ada yang membahas kesamaan beliau-beliau ini dalam tulisan di seword.com ini).

Fahri Hamzah dan Fadli Zon.... Lebih kelihatan Zon daripada Fahri di gambar yach.....

Fahri Hamzah dan Fadli Zon…. Lebih kelihatan Zon daripada Fahri di gambar yach…..

Tapi tetap saja beda. Ibarat pinang dibelah dua, sama besarnya, tapi sebelah digunakan di sini, sebelahnya lagi digunakan di lain tempat, yaitu keanggotaan parpol dan DPR RI. Jika Fadli Zon dari Gerindra dan wakil DPR RI, maka Fahri Hamzah dari titik-titik dan wakil titik-titik. Kenapa titik-titik, karena beliau yang terhormat ini kabarnya sudah dikeluarkan dari parpolnya dan dengan demikian dia mewakili tidak siapa pun di DPR. Luar biasa bukan. Dia mengajari kita bahwa keras kepala ada juga untungnya, karena toh akan didengarkan. Yang saya tidak mengerti adalah bagaimana menjadi anggota DPR tanpa partai politik. Jadi dia meyakinkanku bahwa yang tak mungkin pun bisa menjadi mungkin.

  1. Terima kasih FPI

FPI loh ini. Jangan gagal fokus karena 'to kill'-nya

FPI loh ini. Jangan gagal fokus karena ‘to kill’-nya

Survivor! Itulah mungkin julukan yang tepat untuk ormas bernuansa keagamaan ini. Ormas ini telah selamat dari berbagai tuntutan rencana pembubaran. Bahkan mereka mampu berkelit dari penguasa Bangsa Indonesia, pemerintahnya. Coba kita sedikit berpikir, pemerintah tak mampu membubarkan FPI, meskipun khalayak ramai sudah menuntut mereka dibubarkan, karena dianggap anarkis dengan sweeping-nya dan penghasut pemecah-belah bangsa. Mereka bisa bertahan. Bahkan akhir-akhir suara mereka semakin lantang terdengar di seluruh sudut negeri ini. Mereka ini hebat, sebab mampu menggerakkan massa sebanyak 500.000 orang untuk berdemo, berteriak-teriak. Apa tidak hebat, mereka menggerakkan manusia sebanyak itu dengan kerelaan masing-masing dan mampu menjaga kedamaian. WOW.

Ormas mana di negeri ini yang mampu menggerakkan massa 500.000 orang dari ketulusan mereka, kesehatian dan keserasaan. Tidak ada. Hanya FPI. Bahkan mereka mampu menjadi penggerak ormas-ormas lain. Dan kalau kemarin terjadi kerusuhan, itu murni bukan ulah mereka. Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Itu tidak termasuk dalam 500.000 orang itu. Hebat kan? Makanya saya berterima kasih. Pelajaran untuk selamat dari berbagai serangan dan menggerakkan hati 500.000 orang. Incredible!

  1. Terima kasih MUI

Majelis Ulama Indonesia. Mereka ini adalah penjamin kehalalan. Mereka ini mengeluarkan sertifikasi halal. Mereka ini orang-orang suci loh. Mereka menjamin setiap umat muslim memakan makanan halal di toko, warung, kedai, dan warkop mana pun mereka berada. Wah ingat warkop jadi ingin ngopi dech.

Majelis Ulama Indonesia disingkat MUI, baca singkatannya M, U, I, jangan MUI, ntar klo di search di mensin pencari, yang keluar MUI-nya xiaomi atau orang cina

Majelis Ulama Indonesia disingkat MUI, baca singkatannya M, U, I, jangan MUI, ntar klo di search di mensin pencari, yang keluar MUI-nya xiaomi atau orang cina

Mereka ini adalah majelis terhormat urusan surga. Tidak ada kepentingan lain mereka ini selain kepentingan kesucian. Bagi mereka ini politik bukanlah jalan terbaik, sebab dalam politik, yang haram pun dihalalkan dan yang halal mungkin saja diharamkan. Maka jika Anda mendengarkan dan mengikuti MUI, maka dijamin Anda masuk surga. Ikut MUI adalah jalan kesucian dan sumber kesucian negeri ini. Tiba-tiba aku ingin jadi cleaning service di sana, biar aku juga dianggap orang-orang bagian dari MUI.

  1. Terima kasih yang lain

Saya sebut yang lain, sebab banyak ormas, pejabat, dan lain sebagainya yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Misalnya, para warga yang menolak Ahok pada saat kampanye. Mereka ini orang hebat. Mereka melabrak konstitusi demi kesucian agama, menolak seseorang untuk mengutarakan visi-misinya.

Silakan dicek di Youtube yah, biar gak dibilang HOAX.....I'm...

Silakan dicek di Youtube yah, biar gak dibilang HOAX…..I’m…

Ada juga seseorang secara terang-terangan menyediakan 1 M bagi siapa saja yang bisa membunuh Ahok. Sayembara pembunuhan. Ngeri gak! Ya nggaklah. Demi kesucian agama dan kitabnya, membunuh pun dihalalkan. Itulah kehebatan orang ini. Dan saya ingin sebenarnya menerima tawaran ini, tapi saya tidak seberani beliau yang terhormat. Dana terima kasih untuk keberanian mereka ini.

Masih ada lagi? Masih……! Saya tidak bisa sebut satu per satu. Silakan dilanjutkan.

  1. Terima kasih Jokowi

Presiden Joko Widodo atau Jokowi

Presiden Joko Widodo atau Jokowi

Hahahhaha…… saya berterima kasih kepada Jokowi, presidenku. Lucu juga yah negeri ini. Presidennya kurus kerempeng, gak banyak ngomong, gak kaya-kaya amat, anak-anaknya gak mau ikut jejaknya jadi poli-tikus. Aku jadi ingat presiden Gusdur. Ia presiden buta pertama, tapi sungguh luar biasa, bisa menggerakkan semangat toleransi di negeri ini. Saya bahkan menyebut dia sebagai ‘bapak toleransi’. Mungkin karena kebutaannya, hatinya jadi bisa melihat sampai ke lubuk hati Allah.

Kembali ke Jokowi, presidenku. Biarpun penampilannya seperti itu, efeknya cukup mencengangkan. Kehadiran beliau ini di kontes perpolitikan nasional mengejutkan banyak orang. Jokowi? Tapi begitulah kehadirannya bagai matahari yang bersinar pagi hari dan tenggelam di sore hari. Ia muncul di saat-saat yang tepat. Ketika Indonesia sungguh butuh presiden yang tegas dan lugas, ia muncul sebagai kandidat dan menang. Iya loh…. Kehadiran orang satu ini selalu menjadi viral.

Saya tidak temukan waktu dia geleng-geleng. Lagian gambar, jadi gak mungkin kelihatan geleng-geleng kepala

Saya tidak temukan waktu dia geleng-geleng. Lagian gambar, jadi gak mungkin kelihatan geleng-geleng kepala

Kehadirannya di hambalang sambal geleng kepala, sontak menggemparkan seluruh media tertuju kepadanya. Kehadirannya di pulau terluar, membuat negara tetangga mulai blingsatan kepanasan. Kehadirannya di tanah Papua, membuat harapan baru bagi masyarakat di sana. Kehadirannya di pemerintahan, membuat BBM tidak lagi bahan pergunjingan bangsa ini. BBM naik-turun, siapa yang peduli? Bahkan parahnya, BBM 1 harga, artinya harga BBM di Jakarta sama dengan harga BBM di Papua. Ini, yang tidak pernah terpikirkan presiden-presiden sebelumnya. Bagaimana caranya, katanya ‘saya tidak tahu’. Enak tenan yo….

Bahkan kehadirannya di pusat komando Kopassus beberapa hari yang lalu, membuat ciut hati orang-orang yang mulai merusak negeri ini. Bukan perkataannya yang istimewa, tapi kehadirannya. Coba pikir, dia kira-kira hanya bilang, ‘Sebagai panglima tertinggi, kopassus ini yang bisa saya gerakkan langsung jika terjadi emergency’. Tapi orang-orang sudah menafsirkan macam-macam.

Kita harus berterima kasih kepada beliau, bahwa kehadiran sangat penting dalam kehidupan. Satu kehadiran sebanding dengan sejuta kata. Mungkin itulah pelajaran berharga yang terbaru dari beliau. Yang lama, banyak bangat, misalnya, harapan baru bagi Indonesia terutama bagian terluar, ekonomi Indonesia dengan amnesty pajak, hukum, koruptor, dll.

  1. Terima kasih Ahok

Ciee cieee… Ahokers yah? Hahahahha……. Sebenarnya bukan soal ahokers atau tidak, tetapi soal terima kasih. Jadi ini soal terima kasih.

NN: Loh kog..... kampanye no 1, Hok? // Ahok: Gue kan udah banyak dukungan dari benda mati, biar dia ada dukungan dari benda hidup....

NN: Loh kog….. kampanye no 1, Hok? // Ahok: Gue kan udah banyak dukungan dari benda mati (sungai bersih, apartemen, RPTA, dll., biar dia ada dukungan dari yang hidup, Ahok….

Banyak kalangan tidak setuju dengan cara ngomong anak satu ini, katanya kurang santun. Bagi aku sih bukan kurang santun, tapi tidak santun. Tapi dari dia saya belajar bahwa jadi pejabat politik tidak harus santun dalam kata, tetapi harus santun dalam amanah. Santun dalam kata itu kan soal etika komunikasi sosial. Soal amanah, santun itu berarti melakukan tugas dan kewajiban sebagai gubernur DKI Jakarta. Maka kalau memilih seorang gubernur yang santun kata atau amanah? Maka saya akan memilih gubernur santun amanah, meski dua-duanya lebih baik.

Saya belajar juga bahwa minoritas religius dan etnis tidak menjadi penghalang untuk menjadi mayoritas kualitas. Mayoritas kualitas maksudnya adalah mayoritas dalam kemampuan masing-masing. Kecenderungan manusia adalah mayoritas selalu diikuti khalayak. Sekarang lagi nge-tren soal pejabat bersih, jujur, dan profesional. Sebenarnya sudah diawali beberapa orang, tapi baru kehadiran Ahok yang membuatnya menjadi tren pejabat pemerintahan. Siapa yang tidak berterima kasih ke Ahok. Kalua ada, berarti mereka sedang ketinggalan tren pejabat pemerintahan atau mungkin mereka tidak setuju dengan tren tersebut.

Aduh kepanjangan nih tulisan…

Demikianlah sedikit ungkapan terima kasihku dan alasannya pada mereka ini. Sebenarnya masih banyak yang bisa diungkapkan. Tapi takutnya yang lain tidak punya kesempatan untuk berterima kasih kepada mereka.

Silakan dinilai sendiri. Bisa saja terima kasih ini tidak tepat pada orang yang tepat. Jika masih kurang silakan ditambah. Jika tidak setuju silakan dikomentari…..

 

Teriring salam dan doa.

*Artikel ini dipublish pertama kali di seword.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s