Saya seorang guru Pendidikan Agama Katolik di salah satu SMA Katolik. Jadi ini bukan HOAX. Mau ngecek, silakan! Anda akan saya sambut dengan tarian dan bunyi sangkakala.

Dalam kurikulum Pendidikan Agama Katolik terdapat materi “Gereja (Katolik) Berdialog dengan Islam”. Tentu untuk mengajarkan ini, saya harus pernah mempelajari tentang agama Islam, mulai dari artinya, imannya, kepercayaannya, hukumnya, kitabnya, dan sampai pada toleransinya.

Aku tahu aku bukan ahli agama Islam dan pengetahuanku terbatas pada pengetahuan umum tentang Islam dan sedikit filsafat Islam, seperti Ibu Sina, Ibnu Rushd, Ibnu Khaldun, dll (yang pemikiran mereka sudah agak kulupakan). Untuk memenuhi tugas mata kuliah Islamologiku saat kuliah, aku mengambil tentang FPI dan Jihad Islam, yang membawaku mencari informasi tentang FPI dan Jihad. Saya tentu membaca buku-buku referensi yang terbatas. Dan untuk mengklarifikasi isi buku maka aku mengadakan wawancara ke pesantren. Ada tiga (3) pesantren yang aku kunjungi waktu itu. Tapi waktu itu pemimpin pesantrennya tidak ada di tempat, sehingga aku mewawancarai beberapa santri di setiap pesantren yang aku kunjungi. Alhamdulillah, aku menemukan pencerahan, meskipun tidak komprehensif.

Dari pengetahuan perkuliahan, referensi buku, wawancara santri, dan hidup bersama umat muslim di sekitar, aku mengajarkan Islam kepada anak didikku sekarang. Tujuan utamaku adalah mereka mengerti Islam secara umum. Bagiku, yang sudah lebih mampu memilah informasi yang bermutu dan tidak, dibandingkan dengan murid-muridku, Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam itu indah. Islam itu damai. Bahwa ada kenyataan yang menunjukkan bahwa seolah Islam itu agama perang, agama pembunuh, agama teroris, adalah Islam yang tidak sepenuhnya Islam. Yang saya mengerti, bahwa hal itu terjadi karena ada modifikasi ajaran atau penafsiran ajaran yang ‘mungkin’ keliru; ada kepentingan politik, ekonomi dan social budaya. Seperti bom Bali, itu mutlak tidak hanya kepentingan jihad. Perang di Timur Tengah tidak murni soal agama, melainkan lebih banyak muatan politis dan ekonomi. Dengan beranggapan demikian, bagiku Islam tetap indah dan damai.

Umat Islam melaksanakan sholat di Masjid Istiqlal

Umat Islam melaksanakan sholat di Masjid Istiqlal

Tetapi bagi murid-murid SMA ini, apakah akan mengerti seperti saya mengerti Islam? Ternyata tidak. Saya sudah menjelaskan keindahan dan kedamaian yang ada dalam ajaran Islam. Saya sudah mencontohkan tokoh-tokoh Islam, baik luar maupun dalam negeri, yang sangat menunjukkan keindahan dan kedamaian Islam. Saya juga sudah mencontohkan tetanggaku (bapak dan ibu kosku yang bangunkan setiap aku belum bangun pukul 05:30) yang Islam dapat hidup dengan damai dan indah. Bahkan saya juga sudah menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia ini tercapai karena Islam ikut ambil bagian di dalamnya. Saya juga mencontohkan bahwa Indonesia sampai saat ini, yang bhineka tunggal ika, masih terjaga toleransi SARA di mana mayoritas Indonesia adalah Islam.

Kira-kira, mereka bertanya seperti ini:

“Pak, bagaimana mungkin Islam itu agama yang indah dan damai, sementara kenyataannya tidak seperti itu. Di Timur tengah, di mana Islam bertumbuh pesat, perang selalu bergejolak. Apakah perang itu sama dengan damai. Di Indonesia, sudah tak terbilang jumlahnya ulah orang-orang Islam, yang terang-terangan mengatas namakan agama Islam. Konflik di Poso, bom di Bali, bom di Jakarta adalah beberapa contoh yang memaksa kami untuk memahami Islam sebagai agama perang, teroris, dan penuh kekerasan. Itu kan masih beberapa yang kami sebut, pak. Masih banyak, termasuk yang masih baru dan sedang terjadi, soal penistaan agama, dan Bapak pasti juga sudah tahu.”

Kemudian saya tanya, “Adakah kebaikan Islam yang pernah kamu lihat dan nikmati?”

Mereka menjawab, “Ada sih, Pak. Banyak juga. Bapak kan tadi sudah sebut beberapa. Tapi kami juga heran sih, Pak. Tetanggaku kan Islam. Kami baik-baik aja tuh. Mereka malah gak pernah ngomongin soal agama. Malah lebih sering ngomong soal, tren pakaian kekinian, harga sembako, dan lain-lain dech, Pak. Pokoknya mereka tidak ngomong agama. Tapi mereka rajin bangat loh ke masjid. Kami kan kalau hari Minggu aja. Hehehhehehehe … Jadi kenapa, ya Pak.”

“Begini loh, Pak. Soal kasus Ahok. Ahok kan bilang ‘dibohongin pakai Al-Maida 51’. Bisa saja menyinggung hati orang Islam. Meskipun kalau tersinggung agak lebay juga sih. Tapi Ahok kan sudah minta maaf di media. Semua tahu kan. Andaikata Islam itu indah dan damai, pasti Ahok dimaafkan. Iya kan, Pak? Orang gak punya agama, ateis pun, akan memaafkan kita kalua berbuat salah. Lah kog Islam tidak sih. Berarti kan Islam itu bukan agama yang baik. Apalagi yang demo itu kan ulama, ustad, dan pemuka agama Islamlah pokoknya. Gak masuk akal dech Pak.”

“Ada lagi nih Pak. Ada yang bilang di ILC tadi malam kalua demo 4 November itu berakhir damai. Damai dari mana? Damai dari hongkong? Jelas-jelas ada penjarahan, apparat luka-luka, dan ada bakar-bakar kendaraan, kog damai. Itu matanya di tarok di mana, otaknya kog bisa bilang damai. Sudah gitu bilang subbanallah, Allahu akbar lagi. Gila kan? Wong tetanggaku aja gak selalu bilang Allahu akbar setiap hari kog, yang aku dengar sih, tapi mereka damai, ramah dan sejuk.”

Jujur, tidak mudah menjawab pertanyaan lugu anak-anak ini. Apa yang mereka rasakan dalam kehidupan mereka sehari-hari berbanding terbalik dengan kenyataan MUI, FPI, HMI, dan lain-lain yang justru menunjukkan keangkuhan, kekerasan hati, dan kesombongan.

Keragaman itu mempesona dan Indah jika dibalut dalam toleransi

Keragaman itu mempesona dan Indah jika dibalut dalam toleransi

Setelah pembahasan yang alot soal Islam, saya menutup pelajaran dengan kesimpulan. “Adek-adek sekalian. Agama adalah institusi religious, yang menjaga dan menjamin iman akan Allah. Bahwa ada peristiwa yang meresahkan tentang persoalan agama di Indonesia ini, adalah kenyataan yang harus kita sikapi dengan bijak. Yang penting untuk saya dan adek-adek adalah berpikirlah positif, ambillah terlebih dahulu kebaikan dari peristiwa terburuk sekalipun, agar kita bisa mencari jalan keluar untuk mengatasi suatu permasalahan. Adek-adek melihat Islam, yang dipertontonkan oleh sebagian orang di berbagai tempat, tidak seperti Islam yang saya utarakan. Itu memang nyata, dan saya tidak mengabaikan itu. Tetapi lihat dan perhatikan Islam yang adek-adek alami di tengah-tengah masyarakat, apakah seperti itu atau tidak. Mereka yang ribut tentang agama, pasti bukan demi agama, tetapi demi kepentingan diri masing-masing. Sebab jika demi agama, maka mereka akan menggunakan cara-cara religious yang penuh kelembutan dan keindahan, yang jauh lebih lembut dan indah dari cara konstitusional, dan cinta, yang jauh melampaui agama-agama di dunia ini. Dan selalulah menjaga keberagaman dengan toleransi.”

Meskipun saya sudah memberi kesimpulan, tetapi tetaplah muncul kegelisahan dalam hati, “Apakah mereka ini mengerti dan mampu menerima itu semua?” Ketika suatu saat saya menjumpai pertanyaan yang sama, maka jalan terakhir saya mungkin akan bertanya, “Wahai ulama yang terhormat, apa yang akan saya jawab kepada murid-murid ini?”

Maaf, sedikit agak panjang tulisan ini. Semoga kegelisahan saya ini, menjadi kegelisahan Anda terhadap anak-anak Bangsa Indonesia agar kita sama-sama menjadi pencerah bagi mereka dengan tulisan-tulisan mencerahkan.

Teriring salam dan doa.

*Artikel ini pertama kali dipublish di seword.com dengan penulis yang sama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s