Menarik memerhatikan fenomena proses hukum di Indonesia ini. Mungkin Anda masih ingat ketika jutaan umat Muslim berdemo di Jakarta menuntut pemerintah agar Ahok segera diproses hukum. Jutaan loh… dan berjilid lagi. Saya kira baru kali ini jutaan orang melawan satu orang.

Pemimpin dan penggerak demo itu adalah Rizieq Shihab, sang imam besar ormas FPI, yang pernah mau dinobatkan sebagai imam besar umat Islam Indonesia tetapi tidak jadi. Tidak tanggung-tanggung, orasi-orasi mereka begitu menakutkan dan mengerikan. Kata-kata ancaman, hujatan, dan banyak lagi, yang sejatinya tidak pantas keluar dari mulut seorang pemuka agama. Tetapi ya sudahlah, mungkin begitulah tabiatnya.

Ahok menghadapi dengan tegar, tegas dan berani

Ahok secara lapang dada meminta maaf kepada umat Islam se-Indonesia jika merasa terhina dan agamanya ternista karena kata-katanya, meskipun dari hati yang terdalam dia tidak ada niat sedikit pun menyakiti hati umat Islam. Tetapi secara tegas dia mengakui bahwa dia tidak bersalah.

Tetapi namanya Indonesia, penegak hukum dan hukumnya belumlah dapat diandalkan untuk menjadi benteng pertahanan kebenaran di NKRI ini. Berdasarkan tekanan Ahok akhirnya diproses hukum dengan cepat bahkan kilat.

Ahok menghadapinya secara lapang dada, tegar, tegas dan berani. Dia adalah seorang yang berkomitmen menjunjung tinggi proses hukum sekalipun rasanya tidak adil bagi dirinya sendiri. Tetapi demi tegaknya hukum di Indonesia dia menjalani proses itu tanpa cacat sedikit pun. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang selalu ada alasan jika sudah berhadapan dengan hukum.

Akhirnya Ahok diputuskan bersalah dan ditahan sebagai seorang penista agama Islam. Lagi-lagi Ahok menunjukkan sikap seorang kesatria, yang dengan tegar menghadapi hukum. Dia menerima diri ditahan.

Meskipun sebenarnya ada peluang untuk banding, Ahok tidak mengambil kesempatan itu. Suatu keputusan yang masuk akal dari seorang negarawan. Kenapa? Pertama, kalau dia naik banding maka akan terjadi kaos di Jakarta. Para golongan sakit hati akan kembali turun ke jalanan. Jakarta akan kembali gaduh, bahkan mungkin Indonesia. Maka sebagai seorang negarawan, ia harus lebih mementingkan kepentingan umum dari keselamatan dirinya sendiri.

Kedua, jika mulai dari awal proses hukum sudah kental dengan tekanan masa, maka banding pun mungkin akan semakin memperburuk hukumannya. Bukan maksudnya tidak percaya hukum, tetapi tidak percaya dengan kredibilitas penegak hukum.

Rizieq Shihab dengan kepengecutannya

Sebagai orang nomor satu dalam organisasi FPI, yang selama ini menjadi biang radikalisme agamis, tentulah harus lebih dari pengikutnya. Jika selama ini ormas FPI dikenal sangat radikal, apalagi pemimpinnya. Jika mulut anggota FPI penuh caci maki, maka itu dipelajari dari gurunya, Rizieq.

Memang begitulah kenyataannya. Rizieq menuduh pemerintah ingin membangkitkan kembali PKI dengan bukti lambang palu arit di uang kertas baru, padahal matanya saja yang mungkin sudah rabun. Ia juga menghina Soekarno dengan mengatakan sila pertama Pancasila ada di pantat. Ia menghina agama orang lain, polisi, tentara, dan presiden serta jajarannya.

Akibatnya dia mendapatkan gelar pemecah rekor terbanyak dilaporkan ke polisi karena mulutnya sepanjang 2016-2017. Ternyata residivis dua kali ini tak juga berhenti menjadi biang kegaduhan. Ia kembali menggembar-gemborkan revolusi di kalangannya. Tetapi ketika mau diproses hukum, dia selalu ada alasan untuk tidak hadir di kantor polisi.

Meskipun memang pada akhirnya memenuhi panggilan polisi, tetapi membawa gerombolannya bak raja yang mau digantung. Padahal sebenarnya tidak ada bahaya di kantor polisi, tetapi takutnya sudah luar biasa. Sampai sekarang kasusnya belum juga dilanjutkan.

Tidak berhenti sampai di sana, Rizieq kembali mendapat hadiah kasus sebelum ramadhan, kasus sexchat cabul alias konten pornografi. Pucuk di cinta wulan pun tiba, malunya luar biasa. Bayangkan seorang yang setiap hari mendakwahkan Allah yang begitu suci dan selalu merasa diri suci, ternyata tunduk di selangkangan seorang wanita. Itu adalah hal paling memalukan yang pernah ada di dunia ini.

Kalau Ariel pernah melakukan hubungan seks dengan beberapa artis dan videonya beredar di dunia maya, orang masih tidak terlalu peduli sebab Ariel dan lawan mainnya sama-sama artis yang dalam benak masyarakat sangat kental dengan yang begituan.

Tetapi jika seorang pemuka agama melakukan sexchat dengan seorang wanita yang bukan mukrimnya, itu adalah perbuatan paling tercela di muka bumi ini. Tidak ada lagi alasan yang pantas untuk membantahnya atau membenarkannya. Semakin dibantah semakin orang-orang akan mencibir, semakin mencari pembenaran semakin citra mereka akan tenggelam sampai ke dasar neraka.

Padahal ketika peristiwa Ariel yang saya singgung di atas, kelompok mereka ini paling getol menuntut agar Ariel dan lawan mainnya diproses hukum sesuai hukum yang berlaku. Seolah moral Ariel dan lawannya mainnya paling bejat pada waktu itu gara-gara gerombolan FPI.

Ketika tiba saatnya Rizieq harus menghadapi tuduhan yang sebenarnya lebih ringan, dia malah menghindar. Tidak mau memenuhi panggilan polisi dengan berbagai alasan. Kemudian dengan penuh ketakutan pergi melarikan diri ke Arab dengan dalih umroh, tetapi sampai sekarang tidak pulang juga.

Sudah seperti itu, para pengikutnya tetap saja mencari segala pembenaran menjijikkan untuk membela junjungannya itu. Bodohnya, alasan demi alasan yang mereka lontarkan justru semakin menjatuhkan reputasi Rizieq.

Masyarakat sekarang sedang menunggu, apa yang akan Rizieq lakukan. Logika masyarakat sederhana saja, kalau tidak benar yah silakan dilakukan pembelaan di pengadilan. Itu aja kog repot. Kalau benar yah namanya juga manusia, kadang terjatuh, yah silakan saja hadapi proses hukum yang ada.

Tetapi begitulah. Yang namanya malaikat, kalau sudah berbuat jahat, pasti dianggap sebagai iblis. Maka sebaik-baik dan sekuat apa pun Rizieq membela Islam selama ini, tetap saja dia dianggap cabul. Dan mana ada umat yang mau menerima seorang ulama cabul, pasti akan menolak.

Ahok vs Rizieq: bagai langit dan sumur menghadapi proses hukum

Mungkin perbandingan saya ini sangat kejam dan menyakitkan, tetapi begitulah kalau mau dibandingkan. Pertama, Rizieq menuduh Ahok menista agama Islam dan Al-Quran, tetapi sekarang dia, sebagai seorang ulama, justru menjungkalkan Islam dari kesuciannya. Rizieq, yang seharusnya menunjukkan kesucian Islam dan Al Quran yang didakwahkannya, justru dia menodainya dengan perbuatan cabulnya. (Tentu juga dia sungguh melakukan perbuatan itu. Dan ingat bukan soal berat atau tidaknya kasus, melainkan siapa yang melakukan.)

Kedua, Rizieq menuntut Ahok diproses hukum, tetapi sekarang dia menghindar dari proses hukum. Ini sama saja orang yang sudah buang air besar malah memakannya kembali. Apa pun alasannya, entah kriminalisasi ulama, atau anti-Islam. Justru kalau Rizieq merasa dikriminalisasi, dia seharusnya membuktikan bahwa polisi salah.

Ketiga, Rizieq tidak menjawab pertanyaan, benar atau salah. Sebagaimana Ahok tetap meyakini dia tidak bersalah, tetapi tetap meminta maaf dan menjalani proses hukum sebagai konsekuensi dari pendiriannya. Sementara Rizieq tidak menjawab apa-apa, konfirmasi pun tidak, membantah pun tidak. Malah menuduh dan meng-kambing-hitam-kan orang lain. Sikap orang seperti apa sikap seperti itu? Pengecut? Saya kira lebih buruk dari seorang pengecut.

Harapan

Semoga Rizieq menghadapi proses hukum dan tidak mencari pembenaran. Semoga semakin banyak pejabat dan figur publik yang mengikuti sikap Ahok, bersalah atau tidak biarkan hukum menentukan, bahkan ketika hukum seolah tidak adil. Semoga pengikut Rizieq sadar bahwa tindakan menghindari proses hukum adalah tindakan pengecut yang tidak perlu dibela, apalagi seolah mengerahkan seluruh kemampuan ngeles yang ada.

Salam dari rakyat jelata

Menarik memerhatikan fenomena proses hukum di Indonesia ini. Mungkin Anda masih ingat ketika jutaan umat Muslim berdemo di Jakarta menuntut pemerintah agar Ahok segera diproses hukum. Jutaan loh… dan berjilid lagi. Saya kira baru kali ini jutaan orang melawan satu orang.

Pemimpin dan penggerak demo itu adalah Rizieq Shihab, sang imam besar ormas FPI, yang pernah mau dinobatkan sebagai imam besar umat Islam Indonesia tetapi tidak jadi. Tidak tanggung-tanggung, orasi-orasi mereka begitu menakutkan dan mengerikan. Kata-kata ancaman, hujatan, dan banyak lagi, yang sejatinya tidak pantas keluar dari mulut seorang pemuka agama. Tetapi ya sudahlah, mungkin begitulah tabiatnya.

Ahok menghadapi dengan tegar, tegas dan berani

Ahok secara lapang dada meminta maaf kepada umat Islam se-Indonesia jika merasa terhina dan agamanya ternista karena kata-katanya, meskipun dari hati yang terdalam dia tidak ada niat sedikit pun menyakiti hati umat Islam. Tetapi secara tegas dia mengakui bahwa dia tidak bersalah.

Tetapi namanya Indonesia, penegak hukum dan hukumnya belumlah dapat diandalkan untuk menjadi benteng pertahanan kebenaran di NKRI ini. Berdasarkan tekanan Ahok akhirnya diproses hukum dengan cepat bahkan kilat.

Ahok menghadapinya secara lapang dada, tegar, tegas dan berani. Dia adalah seorang yang berkomitmen menjunjung tinggi proses hukum sekalipun rasanya tidak adil bagi dirinya sendiri. Tetapi demi tegaknya hukum di Indonesia dia menjalani proses itu tanpa cacat sedikit pun. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang selalu ada alasan jika sudah berhadapan dengan hukum.

Akhirnya Ahok diputuskan bersalah dan ditahan sebagai seorang penista agama Islam. Lagi-lagi Ahok menunjukkan sikap seorang kesatria, yang dengan tegar menghadapi hukum. Dia menerima diri ditahan.

Meskipun sebenarnya ada peluang untuk banding, Ahok tidak mengambil kesempatan itu. Suatu keputusan yang masuk akal dari seorang negarawan. Kenapa? Pertama, kalau dia naik banding maka akan terjadi kaos di Jakarta. Para golongan sakit hati akan kembali turun ke jalanan. Jakarta akan kembali gaduh, bahkan mungkin Indonesia. Maka sebagai seorang negarawan, ia harus lebih mementingkan kepentingan umum dari keselamatan dirinya sendiri.

Kedua, jika mulai dari awal proses hukum sudah kental dengan tekanan masa, maka banding pun mungkin akan semakin memperburuk hukumannya. Bukan maksudnya tidak percaya hukum, tetapi tidak percaya dengan kredibilitas penegak hukum.

Rizieq Shihab dengan kepengecutannya

Sebagai orang nomor satu dalam organisasi FPI, yang selama ini menjadi biang radikalisme agamis, tentulah harus lebih dari pengikutnya. Jika selama ini ormas FPI dikenal sangat radikal, apalagi pemimpinnya. Jika mulut anggota FPI penuh caci maki, maka itu dipelajari dari gurunya, Rizieq.

Memang begitulah kenyataannya. Rizieq menuduh pemerintah ingin membangkitkan kembali PKI dengan bukti lambang palu arit di uang kertas baru, padahal matanya saja yang mungkin sudah rabun. Ia juga menghina Soekarno dengan mengatakan sila pertama Pancasila ada di pantat. Ia menghina agama orang lain, polisi, tentara, dan presiden serta jajarannya.

Akibatnya dia mendapatkan gelar pemecah rekor terbanyak dilaporkan ke polisi karena mulutnya sepanjang 2016-2017. Ternyata residivis dua kali ini tak juga berhenti menjadi biang kegaduhan. Ia kembali menggembar-gemborkan revolusi di kalangannya. Tetapi ketika mau diproses hukum, dia selalu ada alasan untuk tidak hadir di kantor polisi.

Meskipun memang pada akhirnya memenuhi panggilan polisi, tetapi membawa gerombolannya bak raja yang mau digantung. Padahal sebenarnya tidak ada bahaya di kantor polisi, tetapi takutnya sudah luar biasa. Sampai sekarang kasusnya belum juga dilanjutkan.

Tidak berhenti sampai di sana, Rizieq kembali mendapat hadiah kasus sebelum ramadhan, kasus sexchat cabul alias konten pornografi. Pucuk di cinta wulan pun tiba, malunya luar biasa. Bayangkan seorang yang setiap hari mendakwahkan Allah yang begitu suci dan selalu merasa diri suci, ternyata tunduk di selangkangan seorang wanita. Itu adalah hal paling memalukan yang pernah ada di dunia ini.

Kalau Ariel pernah melakukan hubungan seks dengan beberapa artis dan videonya beredar di dunia maya, orang masih tidak terlalu peduli sebab Ariel dan lawan mainnya sama-sama artis yang dalam benak masyarakat sangat kental dengan yang begituan.

Tetapi jika seorang pemuka agama melakukan sexchat dengan seorang wanita yang bukan mukrimnya, itu adalah perbuatan paling tercela di muka bumi ini. Tidak ada lagi alasan yang pantas untuk membantahnya atau membenarkannya. Semakin dibantah semakin orang-orang akan mencibir, semakin mencari pembenaran semakin citra mereka akan tenggelam sampai ke dasar neraka.

Padahal ketika peristiwa Ariel yang saya singgung di atas, kelompok mereka ini paling getol menuntut agar Ariel dan lawan mainnya diproses hukum sesuai hukum yang berlaku. Seolah moral Ariel dan lawannya mainnya paling bejat pada waktu itu gara-gara gerombolan FPI.

Ketika tiba saatnya Rizieq harus menghadapi tuduhan yang sebenarnya lebih ringan, dia malah menghindar. Tidak mau memenuhi panggilan polisi dengan berbagai alasan. Kemudian dengan penuh ketakutan pergi melarikan diri ke Arab dengan dalih umroh, tetapi sampai sekarang tidak pulang juga.

Sudah seperti itu, para pengikutnya tetap saja mencari segala pembenaran menjijikkan untuk membela junjungannya itu. Bodohnya, alasan demi alasan yang mereka lontarkan justru semakin menjatuhkan reputasi Rizieq.

Masyarakat sekarang sedang menunggu, apa yang akan Rizieq lakukan. Logika masyarakat sederhana saja, kalau tidak benar yah silakan dilakukan pembelaan di pengadilan. Itu aja kog repot. Kalau benar yah namanya juga manusia, kadang terjatuh, yah silakan saja hadapi proses hukum yang ada.

Tetapi begitulah. Yang namanya malaikat, kalau sudah berbuat jahat, pasti dianggap sebagai iblis. Maka sebaik-baik dan sekuat apa pun Rizieq membela Islam selama ini, tetap saja dia dianggap cabul. Dan mana ada umat yang mau menerima seorang ulama cabul, pasti akan menolak.

Ahok vs Rizieq: bagai langit dan sumur menghadapi proses hukum

Mungkin perbandingan saya ini sangat kejam dan menyakitkan, tetapi begitulah kalau mau dibandingkan. Pertama, Rizieq menuduh Ahok menista agama Islam dan Al-Quran, tetapi sekarang dia, sebagai seorang ulama, justru menjungkalkan Islam dari kesuciannya. Rizieq, yang seharusnya menunjukkan kesucian Islam dan Al Quran yang didakwahkannya, justru dia menodainya dengan perbuatan cabulnya. (Tentu juga dia sungguh melakukan perbuatan itu. Dan ingat bukan soal berat atau tidaknya kasus, melainkan siapa yang melakukan.)

Kedua, Rizieq menuntut Ahok diproses hukum, tetapi sekarang dia menghindar dari proses hukum. Ini sama saja orang yang sudah buang air besar malah memakannya kembali. Apa pun alasannya, entah kriminalisasi ulama, atau anti-Islam. Justru kalau Rizieq merasa dikriminalisasi, dia seharusnya membuktikan bahwa polisi salah.

Ketiga, Rizieq tidak menjawab pertanyaan, benar atau salah. Sebagaimana Ahok tetap meyakini dia tidak bersalah, tetapi tetap meminta maaf dan menjalani proses hukum sebagai konsekuensi dari pendiriannya. Sementara Rizieq tidak menjawab apa-apa, konfirmasi pun tidak, membantah pun tidak. Malah menuduh dan meng-kambing-hitam-kan orang lain. Sikap orang seperti apa sikap seperti itu? Pengecut? Saya kira lebih buruk dari seorang pengecut.

Harapan

Semoga Rizieq menghadapi proses hukum dan tidak mencari pembenaran. Semoga semakin banyak pejabat dan figur publik yang mengikuti sikap Ahok, bersalah atau tidak biarkan hukum menentukan, bahkan ketika hukum seolah tidak adil. Semoga pengikut Rizieq sadar bahwa tindakan menghindari proses hukum adalah tindakan pengecut yang tidak perlu dibela, apalagi seolah mengerahkan seluruh kemampuan ngeles yang ada.

Salam dari rakyat jelata

Menarik memerhatikan fenomena proses hukum di Indonesia ini. Mungkin Anda masih ingat ketika jutaan umat Muslim berdemo di Jakarta menuntut pemerintah agar Ahok segera diproses hukum. Jutaan loh… dan berjilid lagi. Saya kira baru kali ini jutaan orang melawan satu orang.

Pemimpin dan penggerak demo itu adalah Rizieq Shihab, sang imam besar ormas FPI, yang pernah mau dinobatkan sebagai imam besar umat Islam Indonesia tetapi tidak jadi. Tidak tanggung-tanggung, orasi-orasi mereka begitu menakutkan dan mengerikan. Kata-kata ancaman, hujatan, dan banyak lagi, yang sejatinya tidak pantas keluar dari mulut seorang pemuka agama. Tetapi ya sudahlah, mungkin begitulah tabiatnya.

Ahok menghadapi dengan tegar, tegas dan berani

Ahok secara lapang dada meminta maaf kepada umat Islam se-Indonesia jika merasa terhina dan agamanya ternista karena kata-katanya, meskipun dari hati yang terdalam dia tidak ada niat sedikit pun menyakiti hati umat Islam. Tetapi secara tegas dia mengakui bahwa dia tidak bersalah.

Tetapi namanya Indonesia, penegak hukum dan hukumnya belumlah dapat diandalkan untuk menjadi benteng pertahanan kebenaran di NKRI ini. Berdasarkan tekanan Ahok akhirnya diproses hukum dengan cepat bahkan kilat.

Ahok menghadapinya secara lapang dada, tegar, tegas dan berani. Dia adalah seorang yang berkomitmen menjunjung tinggi proses hukum sekalipun rasanya tidak adil bagi dirinya sendiri. Tetapi demi tegaknya hukum di Indonesia dia menjalani proses itu tanpa cacat sedikit pun. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang selalu ada alasan jika sudah berhadapan dengan hukum.

Akhirnya Ahok diputuskan bersalah dan ditahan sebagai seorang penista agama Islam. Lagi-lagi Ahok menunjukkan sikap seorang kesatria, yang dengan tegar menghadapi hukum. Dia menerima diri ditahan.

Meskipun sebenarnya ada peluang untuk banding, Ahok tidak mengambil kesempatan itu. Suatu keputusan yang masuk akal dari seorang negarawan. Kenapa? Pertama, kalau dia naik banding maka akan terjadi kaos di Jakarta. Para golongan sakit hati akan kembali turun ke jalanan. Jakarta akan kembali gaduh, bahkan mungkin Indonesia. Maka sebagai seorang negarawan, ia harus lebih mementingkan kepentingan umum dari keselamatan dirinya sendiri.

Kedua, jika mulai dari awal proses hukum sudah kental dengan tekanan masa, maka banding pun mungkin akan semakin memperburuk hukumannya. Bukan maksudnya tidak percaya hukum, tetapi tidak percaya dengan kredibilitas penegak hukum.

Rizieq Shihab dengan kepengecutannya

Sebagai orang nomor satu dalam organisasi FPI, yang selama ini menjadi biang radikalisme agamis, tentulah harus lebih dari pengikutnya. Jika selama ini ormas FPI dikenal sangat radikal, apalagi pemimpinnya. Jika mulut anggota FPI penuh caci maki, maka itu dipelajari dari gurunya, Rizieq.

Memang begitulah kenyataannya. Rizieq menuduh pemerintah ingin membangkitkan kembali PKI dengan bukti lambang palu arit di uang kertas baru, padahal matanya saja yang mungkin sudah rabun. Ia juga menghina Soekarno dengan mengatakan sila pertama Pancasila ada di pantat. Ia menghina agama orang lain, polisi, tentara, dan presiden serta jajarannya.

Akibatnya dia mendapatkan gelar pemecah rekor terbanyak dilaporkan ke polisi karena mulutnya sepanjang 2016-2017. Ternyata residivis dua kali ini tak juga berhenti menjadi biang kegaduhan. Ia kembali menggembar-gemborkan revolusi di kalangannya. Tetapi ketika mau diproses hukum, dia selalu ada alasan untuk tidak hadir di kantor polisi.

Meskipun memang pada akhirnya memenuhi panggilan polisi, tetapi membawa gerombolannya bak raja yang mau digantung. Padahal sebenarnya tidak ada bahaya di kantor polisi, tetapi takutnya sudah luar biasa. Sampai sekarang kasusnya belum juga dilanjutkan.

Tidak berhenti sampai di sana, Rizieq kembali mendapat hadiah kasus sebelum ramadhan, kasus sexchat cabul alias konten pornografi. Pucuk di cinta wulan pun tiba, malunya luar biasa. Bayangkan seorang yang setiap hari mendakwahkan Allah yang begitu suci dan selalu merasa diri suci, ternyata tunduk di selangkangan seorang wanita. Itu adalah hal paling memalukan yang pernah ada di dunia ini.

Kalau Ariel pernah melakukan hubungan seks dengan beberapa artis dan videonya beredar di dunia maya, orang masih tidak terlalu peduli sebab Ariel dan lawan mainnya sama-sama artis yang dalam benak masyarakat sangat kental dengan yang begituan.

Tetapi jika seorang pemuka agama melakukan sexchat dengan seorang wanita yang bukan mukrimnya, itu adalah perbuatan paling tercela di muka bumi ini. Tidak ada lagi alasan yang pantas untuk membantahnya atau membenarkannya. Semakin dibantah semakin orang-orang akan mencibir, semakin mencari pembenaran semakin citra mereka akan tenggelam sampai ke dasar neraka.

Padahal ketika peristiwa Ariel yang saya singgung di atas, kelompok mereka ini paling getol menuntut agar Ariel dan lawan mainnya diproses hukum sesuai hukum yang berlaku. Seolah moral Ariel dan lawannya mainnya paling bejat pada waktu itu gara-gara gerombolan FPI.

Ketika tiba saatnya Rizieq harus menghadapi tuduhan yang sebenarnya lebih ringan, dia malah menghindar. Tidak mau memenuhi panggilan polisi dengan berbagai alasan. Kemudian dengan penuh ketakutan pergi melarikan diri ke Arab dengan dalih umroh, tetapi sampai sekarang tidak pulang juga.

Sudah seperti itu, para pengikutnya tetap saja mencari segala pembenaran menjijikkan untuk membela junjungannya itu. Bodohnya, alasan demi alasan yang mereka lontarkan justru semakin menjatuhkan reputasi Rizieq.

Masyarakat sekarang sedang menunggu, apa yang akan Rizieq lakukan. Logika masyarakat sederhana saja, kalau tidak benar yah silakan dilakukan pembelaan di pengadilan. Itu aja kog repot. Kalau benar yah namanya juga manusia, kadang terjatuh, yah silakan saja hadapi proses hukum yang ada.

Tetapi begitulah. Yang namanya malaikat, kalau sudah berbuat jahat, pasti dianggap sebagai iblis. Maka sebaik-baik dan sekuat apa pun Rizieq membela Islam selama ini, tetap saja dia dianggap cabul. Dan mana ada umat yang mau menerima seorang ulama cabul, pasti akan menolak.

Ahok vs Rizieq: bagai langit dan sumur menghadapi proses hukum

Mungkin perbandingan saya ini sangat kejam dan menyakitkan, tetapi begitulah kalau mau dibandingkan. Pertama, Rizieq menuduh Ahok menista agama Islam dan Al-Quran, tetapi sekarang dia, sebagai seorang ulama, justru menjungkalkan Islam dari kesuciannya. Rizieq, yang seharusnya menunjukkan kesucian Islam dan Al Quran yang didakwahkannya, justru dia menodainya dengan perbuatan cabulnya. (Tentu juga dia sungguh melakukan perbuatan itu. Dan ingat bukan soal berat atau tidaknya kasus, melainkan siapa yang melakukan.)

Kedua, Rizieq menuntut Ahok diproses hukum, tetapi sekarang dia menghindar dari proses hukum. Ini sama saja orang yang sudah buang air besar malah memakannya kembali. Apa pun alasannya, entah kriminalisasi ulama, atau anti-Islam. Justru kalau Rizieq merasa dikriminalisasi, dia seharusnya membuktikan bahwa polisi salah.

Ketiga, Rizieq tidak menjawab pertanyaan, benar atau salah. Sebagaimana Ahok tetap meyakini dia tidak bersalah, tetapi tetap meminta maaf dan menjalani proses hukum sebagai konsekuensi dari pendiriannya. Sementara Rizieq tidak menjawab apa-apa, konfirmasi pun tidak, membantah pun tidak. Malah menuduh dan meng-kambing-hitam-kan orang lain. Sikap orang seperti apa sikap seperti itu? Pengecut? Saya kira lebih buruk dari seorang pengecut.

Harapan

Semoga Rizieq menghadapi proses hukum dan tidak mencari pembenaran. Semoga semakin banyak pejabat dan figur publik yang mengikuti sikap Ahok, bersalah atau tidak biarkan hukum menentukan, bahkan ketika hukum seolah tidak adil. Semoga pengikut Rizieq sadar bahwa tindakan menghindari proses hukum adalah tindakan pengecut yang tidak perlu dibela, apalagi seolah mengerahkan seluruh kemampuan ngeles yang ada.

Salam dari rakyat jelata

Menarik memerhatikan fenomena proses hukum di Indonesia ini. Mungkin Anda masih ingat ketika jutaan umat Muslim berdemo di Jakarta menuntut pemerintah agar Ahok segera diproses hukum. Jutaan loh… dan berjilid lagi. Saya kira baru kali ini jutaan orang melawan satu orang.

Pemimpin dan penggerak demo itu adalah Rizieq Shihab, sang imam besar ormas FPI, yang pernah mau dinobatkan sebagai imam besar umat Islam Indonesia tetapi tidak jadi. Tidak tanggung-tanggung, orasi-orasi mereka begitu menakutkan dan mengerikan. Kata-kata ancaman, hujatan, dan banyak lagi, yang sejatinya tidak pantas keluar dari mulut seorang pemuka agama. Tetapi ya sudahlah, mungkin begitulah tabiatnya.

Ahok menghadapi dengan tegar, tegas dan berani

Ahok secara lapang dada meminta maaf kepada umat Islam se-Indonesia jika merasa terhina dan agamanya ternista karena kata-katanya, meskipun dari hati yang terdalam dia tidak ada niat sedikit pun menyakiti hati umat Islam. Tetapi secara tegas dia mengakui bahwa dia tidak bersalah.

Tetapi namanya Indonesia, penegak hukum dan hukumnya belumlah dapat diandalkan untuk menjadi benteng pertahanan kebenaran di NKRI ini. Berdasarkan tekanan Ahok akhirnya diproses hukum dengan cepat bahkan kilat.

Ahok menghadapinya secara lapang dada, tegar, tegas dan berani. Dia adalah seorang yang berkomitmen menjunjung tinggi proses hukum sekalipun rasanya tidak adil bagi dirinya sendiri. Tetapi demi tegaknya hukum di Indonesia dia menjalani proses itu tanpa cacat sedikit pun. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang selalu ada alasan jika sudah berhadapan dengan hukum.

Akhirnya Ahok diputuskan bersalah dan ditahan sebagai seorang penista agama Islam. Lagi-lagi Ahok menunjukkan sikap seorang kesatria, yang dengan tegar menghadapi hukum. Dia menerima diri ditahan.

Meskipun sebenarnya ada peluang untuk banding, Ahok tidak mengambil kesempatan itu. Suatu keputusan yang masuk akal dari seorang negarawan. Kenapa? Pertama, kalau dia naik banding maka akan terjadi kaos di Jakarta. Para golongan sakit hati akan kembali turun ke jalanan. Jakarta akan kembali gaduh, bahkan mungkin Indonesia. Maka sebagai seorang negarawan, ia harus lebih mementingkan kepentingan umum dari keselamatan dirinya sendiri.

Kedua, jika mulai dari awal proses hukum sudah kental dengan tekanan masa, maka banding pun mungkin akan semakin memperburuk hukumannya. Bukan maksudnya tidak percaya hukum, tetapi tidak percaya dengan kredibilitas penegak hukum.

Rizieq Shihab dengan kepengecutannya

Sebagai orang nomor satu dalam organisasi FPI, yang selama ini menjadi biang radikalisme agamis, tentulah harus lebih dari pengikutnya. Jika selama ini ormas FPI dikenal sangat radikal, apalagi pemimpinnya. Jika mulut anggota FPI penuh caci maki, maka itu dipelajari dari gurunya, Rizieq.

Memang begitulah kenyataannya. Rizieq menuduh pemerintah ingin membangkitkan kembali PKI dengan bukti lambang palu arit di uang kertas baru, padahal matanya saja yang mungkin sudah rabun. Ia juga menghina Soekarno dengan mengatakan sila pertama Pancasila ada di pantat. Ia menghina agama orang lain, polisi, tentara, dan presiden serta jajarannya.

Akibatnya dia mendapatkan gelar pemecah rekor terbanyak dilaporkan ke polisi karena mulutnya sepanjang 2016-2017. Ternyata residivis dua kali ini tak juga berhenti menjadi biang kegaduhan. Ia kembali menggembar-gemborkan revolusi di kalangannya. Tetapi ketika mau diproses hukum, dia selalu ada alasan untuk tidak hadir di kantor polisi.

Meskipun memang pada akhirnya memenuhi panggilan polisi, tetapi membawa gerombolannya bak raja yang mau digantung. Padahal sebenarnya tidak ada bahaya di kantor polisi, tetapi takutnya sudah luar biasa. Sampai sekarang kasusnya belum juga dilanjutkan.

Tidak berhenti sampai di sana, Rizieq kembali mendapat hadiah kasus sebelum ramadhan, kasus sexchat cabul alias konten pornografi. Pucuk di cinta wulan pun tiba, malunya luar biasa. Bayangkan seorang yang setiap hari mendakwahkan Allah yang begitu suci dan selalu merasa diri suci, ternyata tunduk di selangkangan seorang wanita. Itu adalah hal paling memalukan yang pernah ada di dunia ini.

Kalau Ariel pernah melakukan hubungan seks dengan beberapa artis dan videonya beredar di dunia maya, orang masih tidak terlalu peduli sebab Ariel dan lawan mainnya sama-sama artis yang dalam benak masyarakat sangat kental dengan yang begituan.

Tetapi jika seorang pemuka agama melakukan sexchat dengan seorang wanita yang bukan mukrimnya, itu adalah perbuatan paling tercela di muka bumi ini. Tidak ada lagi alasan yang pantas untuk membantahnya atau membenarkannya. Semakin dibantah semakin orang-orang akan mencibir, semakin mencari pembenaran semakin citra mereka akan tenggelam sampai ke dasar neraka.

Padahal ketika peristiwa Ariel yang saya singgung di atas, kelompok mereka ini paling getol menuntut agar Ariel dan lawan mainnya diproses hukum sesuai hukum yang berlaku. Seolah moral Ariel dan lawannya mainnya paling bejat pada waktu itu gara-gara gerombolan FPI.

Ketika tiba saatnya Rizieq harus menghadapi tuduhan yang sebenarnya lebih ringan, dia malah menghindar. Tidak mau memenuhi panggilan polisi dengan berbagai alasan. Kemudian dengan penuh ketakutan pergi melarikan diri ke Arab dengan dalih umroh, tetapi sampai sekarang tidak pulang juga.

Sudah seperti itu, para pengikutnya tetap saja mencari segala pembenaran menjijikkan untuk membela junjungannya itu. Bodohnya, alasan demi alasan yang mereka lontarkan justru semakin menjatuhkan reputasi Rizieq.

Masyarakat sekarang sedang menunggu, apa yang akan Rizieq lakukan. Logika masyarakat sederhana saja, kalau tidak benar yah silakan dilakukan pembelaan di pengadilan. Itu aja kog repot. Kalau benar yah namanya juga manusia, kadang terjatuh, yah silakan saja hadapi proses hukum yang ada.

Tetapi begitulah. Yang namanya malaikat, kalau sudah berbuat jahat, pasti dianggap sebagai iblis. Maka sebaik-baik dan sekuat apa pun Rizieq membela Islam selama ini, tetap saja dia dianggap cabul. Dan mana ada umat yang mau menerima seorang ulama cabul, pasti akan menolak.

Ahok vs Rizieq: bagai langit dan sumur menghadapi proses hukum

Mungkin perbandingan saya ini sangat kejam dan menyakitkan, tetapi begitulah kalau mau dibandingkan. Pertama, Rizieq menuduh Ahok menista agama Islam dan Al-Quran, tetapi sekarang dia, sebagai seorang ulama, justru menjungkalkan Islam dari kesuciannya. Rizieq, yang seharusnya menunjukkan kesucian Islam dan Al Quran yang didakwahkannya, justru dia menodainya dengan perbuatan cabulnya. (Tentu juga dia sungguh melakukan perbuatan itu. Dan ingat bukan soal berat atau tidaknya kasus, melainkan siapa yang melakukan.)

Kedua, Rizieq menuntut Ahok diproses hukum, tetapi sekarang dia menghindar dari proses hukum. Ini sama saja orang yang sudah buang air besar malah memakannya kembali. Apa pun alasannya, entah kriminalisasi ulama, atau anti-Islam. Justru kalau Rizieq merasa dikriminalisasi, dia seharusnya membuktikan bahwa polisi salah.

Ketiga, Rizieq tidak menjawab pertanyaan, benar atau salah. Sebagaimana Ahok tetap meyakini dia tidak bersalah, tetapi tetap meminta maaf dan menjalani proses hukum sebagai konsekuensi dari pendiriannya. Sementara Rizieq tidak menjawab apa-apa, konfirmasi pun tidak, membantah pun tidak. Malah menuduh dan meng-kambing-hitam-kan orang lain. Sikap orang seperti apa sikap seperti itu? Pengecut? Saya kira lebih buruk dari seorang pengecut.

Harapan

Semoga Rizieq menghadapi proses hukum dan tidak mencari pembenaran. Semoga semakin banyak pejabat dan figur publik yang mengikuti sikap Ahok, bersalah atau tidak biarkan hukum menentukan, bahkan ketika hukum seolah tidak adil. Semoga pengikut Rizieq sadar bahwa tindakan menghindari proses hukum adalah tindakan pengecut yang tidak perlu dibela, apalagi seolah mengerahkan seluruh kemampuan ngeles yang ada.

Salam dari rakyat jelata

Menarik memerhatikan fenomena proses hukum di Indonesia ini. Mungkin Anda masih ingat ketika jutaan umat Muslim berdemo di Jakarta menuntut pemerintah agar Ahok segera diproses hukum. Jutaan loh… dan berjilid lagi. Saya kira baru kali ini jutaan orang melawan satu orang.

Pemimpin dan penggerak demo itu adalah Rizieq Shihab, sang imam besar ormas FPI, yang pernah mau dinobatkan sebagai imam besar umat Islam Indonesia tetapi tidak jadi. Tidak tanggung-tanggung, orasi-orasi mereka begitu menakutkan dan mengerikan. Kata-kata ancaman, hujatan, dan banyak lagi, yang sejatinya tidak pantas keluar dari mulut seorang pemuka agama. Tetapi ya sudahlah, mungkin begitulah tabiatnya.

Ahok menghadapi dengan tegar, tegas dan berani

Ahok secara lapang dada meminta maaf kepada umat Islam se-Indonesia jika merasa terhina dan agamanya ternista karena kata-katanya, meskipun dari hati yang terdalam dia tidak ada niat sedikit pun menyakiti hati umat Islam. Tetapi secara tegas dia mengakui bahwa dia tidak bersalah.

Tetapi namanya Indonesia, penegak hukum dan hukumnya belumlah dapat diandalkan untuk menjadi benteng pertahanan kebenaran di NKRI ini. Berdasarkan tekanan Ahok akhirnya diproses hukum dengan cepat bahkan kilat.

Ahok menghadapinya secara lapang dada, tegar, tegas dan berani. Dia adalah seorang yang berkomitmen menjunjung tinggi proses hukum sekalipun rasanya tidak adil bagi dirinya sendiri. Tetapi demi tegaknya hukum di Indonesia dia menjalani proses itu tanpa cacat sedikit pun. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang selalu ada alasan jika sudah berhadapan dengan hukum.

Akhirnya Ahok diputuskan bersalah dan ditahan sebagai seorang penista agama Islam. Lagi-lagi Ahok menunjukkan sikap seorang kesatria, yang dengan tegar menghadapi hukum. Dia menerima diri ditahan.

Meskipun sebenarnya ada peluang untuk banding, Ahok tidak mengambil kesempatan itu. Suatu keputusan yang masuk akal dari seorang negarawan. Kenapa? Pertama, kalau dia naik banding maka akan terjadi kaos di Jakarta. Para golongan sakit hati akan kembali turun ke jalanan. Jakarta akan kembali gaduh, bahkan mungkin Indonesia. Maka sebagai seorang negarawan, ia harus lebih mementingkan kepentingan umum dari keselamatan dirinya sendiri.

Kedua, jika mulai dari awal proses hukum sudah kental dengan tekanan masa, maka banding pun mungkin akan semakin memperburuk hukumannya. Bukan maksudnya tidak percaya hukum, tetapi tidak percaya dengan kredibilitas penegak hukum.

Rizieq Shihab dengan kepengecutannya

Sebagai orang nomor satu dalam organisasi FPI, yang selama ini menjadi biang radikalisme agamis, tentulah harus lebih dari pengikutnya. Jika selama ini ormas FPI dikenal sangat radikal, apalagi pemimpinnya. Jika mulut anggota FPI penuh caci maki, maka itu dipelajari dari gurunya, Rizieq.

Memang begitulah kenyataannya. Rizieq menuduh pemerintah ingin membangkitkan kembali PKI dengan bukti lambang palu arit di uang kertas baru, padahal matanya saja yang mungkin sudah rabun. Ia juga menghina Soekarno dengan mengatakan sila pertama Pancasila ada di pantat. Ia menghina agama orang lain, polisi, tentara, dan presiden serta jajarannya.

Akibatnya dia mendapatkan gelar pemecah rekor terbanyak dilaporkan ke polisi karena mulutnya sepanjang 2016-2017. Ternyata residivis dua kali ini tak juga berhenti menjadi biang kegaduhan. Ia kembali menggembar-gemborkan revolusi di kalangannya. Tetapi ketika mau diproses hukum, dia selalu ada alasan untuk tidak hadir di kantor polisi.

Meskipun memang pada akhirnya memenuhi panggilan polisi, tetapi membawa gerombolannya bak raja yang mau digantung. Padahal sebenarnya tidak ada bahaya di kantor polisi, tetapi takutnya sudah luar biasa. Sampai sekarang kasusnya belum juga dilanjutkan.

Tidak berhenti sampai di sana, Rizieq kembali mendapat hadiah kasus sebelum ramadhan, kasus sexchat cabul alias konten pornografi. Pucuk di cinta wulan pun tiba, malunya luar biasa. Bayangkan seorang yang setiap hari mendakwahkan Allah yang begitu suci dan selalu merasa diri suci, ternyata tunduk di selangkangan seorang wanita. Itu adalah hal paling memalukan yang pernah ada di dunia ini.

Kalau Ariel pernah melakukan hubungan seks dengan beberapa artis dan videonya beredar di dunia maya, orang masih tidak terlalu peduli sebab Ariel dan lawan mainnya sama-sama artis yang dalam benak masyarakat sangat kental dengan yang begituan.

Tetapi jika seorang pemuka agama melakukan sexchat dengan seorang wanita yang bukan mukrimnya, itu adalah perbuatan paling tercela di muka bumi ini. Tidak ada lagi alasan yang pantas untuk membantahnya atau membenarkannya. Semakin dibantah semakin orang-orang akan mencibir, semakin mencari pembenaran semakin citra mereka akan tenggelam sampai ke dasar neraka.

Padahal ketika peristiwa Ariel yang saya singgung di atas, kelompok mereka ini paling getol menuntut agar Ariel dan lawan mainnya diproses hukum sesuai hukum yang berlaku. Seolah moral Ariel dan lawannya mainnya paling bejat pada waktu itu gara-gara gerombolan FPI.

Ketika tiba saatnya Rizieq harus menghadapi tuduhan yang sebenarnya lebih ringan, dia malah menghindar. Tidak mau memenuhi panggilan polisi dengan berbagai alasan. Kemudian dengan penuh ketakutan pergi melarikan diri ke Arab dengan dalih umroh, tetapi sampai sekarang tidak pulang juga.

Sudah seperti itu, para pengikutnya tetap saja mencari segala pembenaran menjijikkan untuk membela junjungannya itu. Bodohnya, alasan demi alasan yang mereka lontarkan justru semakin menjatuhkan reputasi Rizieq.

Masyarakat sekarang sedang menunggu, apa yang akan Rizieq lakukan. Logika masyarakat sederhana saja, kalau tidak benar yah silakan dilakukan pembelaan di pengadilan. Itu aja kog repot. Kalau benar yah namanya juga manusia, kadang terjatuh, yah silakan saja hadapi proses hukum yang ada.

Tetapi begitulah. Yang namanya malaikat, kalau sudah berbuat jahat, pasti dianggap sebagai iblis. Maka sebaik-baik dan sekuat apa pun Rizieq membela Islam selama ini, tetap saja dia dianggap cabul. Dan mana ada umat yang mau menerima seorang ulama cabul, pasti akan menolak.

Ahok vs Rizieq: bagai langit dan sumur menghadapi proses hukum

Mungkin perbandingan saya ini sangat kejam dan menyakitkan, tetapi begitulah kalau mau dibandingkan. Pertama, Rizieq menuduh Ahok menista agama Islam dan Al-Quran, tetapi sekarang dia, sebagai seorang ulama, justru menjungkalkan Islam dari kesuciannya. Rizieq, yang seharusnya menunjukkan kesucian Islam dan Al Quran yang didakwahkannya, justru dia menodainya dengan perbuatan cabulnya. (Tentu juga dia sungguh melakukan perbuatan itu. Dan ingat bukan soal berat atau tidaknya kasus, melainkan siapa yang melakukan.)

Kedua, Rizieq menuntut Ahok diproses hukum, tetapi sekarang dia menghindar dari proses hukum. Ini sama saja orang yang sudah buang air besar malah memakannya kembali. Apa pun alasannya, entah kriminalisasi ulama, atau anti-Islam. Justru kalau Rizieq merasa dikriminalisasi, dia seharusnya membuktikan bahwa polisi salah.

Ketiga, Rizieq tidak menjawab pertanyaan, benar atau salah. Sebagaimana Ahok tetap meyakini dia tidak bersalah, tetapi tetap meminta maaf dan menjalani proses hukum sebagai konsekuensi dari pendiriannya. Sementara Rizieq tidak menjawab apa-apa, konfirmasi pun tidak, membantah pun tidak. Malah menuduh dan meng-kambing-hitam-kan orang lain. Sikap orang seperti apa sikap seperti itu? Pengecut? Saya kira lebih buruk dari seorang pengecut.

Harapan

Semoga Rizieq menghadapi proses hukum dan tidak mencari pembenaran. Semoga semakin banyak pejabat dan figur publik yang mengikuti sikap Ahok, bersalah atau tidak biarkan hukum menentukan, bahkan ketika hukum seolah tidak adil. Semoga pengikut Rizieq sadar bahwa tindakan menghindari proses hukum adalah tindakan pengecut yang tidak perlu dibela, apalagi seolah mengerahkan seluruh kemampuan ngeles yang ada.

Salam dari rakyat jelata

Opini ini pertama kali dipublikasikan di Seword.com dengan judul dan penulis yang sama. Silakan kunjungi sumber tulisan di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s