Pendidikan Indonesia masih jauh dari nilai positif, entah pendidikan perkotaan, pedesaan maupun pelosok. Semuanya seolah memprihatinkan. Sangat disayangkan memang, sebab sudah lama Indonesia merdeka dan megurus pendidikannya sendiri.

Apalagi ditambah dengan sistem pendidikan yang tidak menentu. Ganti menteri ganti kebijakan dan ganti pula sistem dan kurikulum pendidikan. Akhirnya kita hanya sibuk mengurusi sistem bukan isi pendidikan yang sebenarnya jauh lebih penting dari sekedar sistem.

Masih ada lagi, soal guru. Masih banyak guru, termasuk saya sendiri, tidak memiliki kompetensi mengajar. Ada pun uji kompetensi yang menghabiskan anggaran yang tidak sedikit, tidak menambah kompetensi guru secara signifikan dan menjamin mutu guru.

Ditambah lagi orang tua yang tidak mendukung pendidikan anaknya. Mereka berpikir bahwa menyediakan sekolah, uang jajan, ongkos, uang sekolah, dan buku-buku sudah cukup sebagai tanda tanggung jawab sebagai orang tua pada pendidikan anaknya.

Tetapi tidak sesederhana itu. Anak tidak hanya butuh materi, melainkan juga dukungan moral dan cinta. Materi hanya memenuhi sarana teknis semata.Materi tidak dapat menggantikan perhatian orang tua pada anak.

Sementara moral, mereka harus ikut mendidik moral anak dengan bekerja sama dengan pihak sekolah yang bersangkutan. Sekolah hanya mampu mengontrol dan mendidik siswa di jam sekolah, sementara di luar sekolah mereka sudah menjadi tanggung jawab orang tua.

Yang jauh lebih penting dari segalanya adalah cinta. Bentuk cinta memang mencakup materi dan moral, tetapi juga lebih daripada itu. Cinta itu terwujud dari perhatian orang tua. Mereka menanyakan proses belajar mengajar di sekolah, bertanya soal pencapaian nilai di sekolah, serta mendiskusikan tantangan-tantangan yang dihadapi anak di sekolah. Semua itu akan dapat terlaksana bila ada cinta.

Sementara peserta didik, semakin dewasa bangsa ini justru peserta didik semakin kehilangan daya juang dan ketertarikan memeroleh pengetahuan di sekolah. Bila dulu peserta didik antusias untuk mengetahui banyak hal dan mengejar perolehan nilai sebagai bukti pencapaian mereka, sekarang malah berlomba-lomba hanya memenuhi nilai tanpa memperhitungkan apakah mereka memang memeroleh pengetahuan sepadan dengan nilai mereka.

Bagaimana nilai dapat dijadikan tolok ukur pencapaian pengetahuan jika dalam memerolehnya menghalalkan segala cara, termasuk mencontek dan membeli nilai. Bukan hanya peserta didik saja, melainkan guru juga termasuk yang menjadikan nilai bukan lagi sebagai ukuran bukan karena memang demikian melainkan tidak mau mengeluarkan tenaga ekstra untuk melakukan penilaian yang sungguh-sungguh.

Maka dibutuhkan pembenahan menyeluruh untuk kemajuan pendidikan bangsa ini. Baik dari para penentu kebijakan, pelaksana kebijakan dan peserta didik sebagai tujuan kebijakan.

Jika tidak ada pembenahan menyeluruh, maka lambat laun pendidikan generasi Indonesia ini akan sangat rentan hancur.

Advertisements

One thought on “Pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s