Tidak sulit menjadi seorang kontroversial seperti Jonru Ginting & Felixiaw. Mereka berdua hanya mempermainkan situasi dan memanfaatkan emosi kawan dan lawan.

Misalnya, ketika ada kontroversi kasus penistaan agama, mereka mempermainkan emosi kawan dengan membela membabi-buta sekalipun tidak masuk akal sekaligus memanfaatkan emosi lawan. 

Sebab jika ada kawan sedang memperjuangkan sesuatu dan mendapat dukungan, maka dia akan selalu memperhatikan penduduk, menjaga agar tidak menjadi lawan.

Sebaliknya, lawan akan semakin tidak terkontrol emosinya jika dia diserang serampangan, yang penting sesuai dengan kawan, sekalipun tidak masuk akal.

Kuncinya dia harus menempatkan diri di tempat yang strategis. Kalau dia pro-pemerintah, maka di harus memeras otak untuk mencari alasan masuk akal agar mampu memahami maksud pemerintah. Tapi kalau dia kontra-pemerintah, maka dia tidak perlu memeras otak, sebab cukup hanya mengikuti kemauan kawan dan bumbui sedikit dengan kebodohan.

Saya sendiri tidak heran bahwa mereka akan menjadi kontroversial. Di satu sisi mereka mampu mempermainkan dan memanfaatkan kawan dan lawan. Di sisi lain yang selalu tidak setuju dengan mereka berdua juga mudah untuk dipermainkan dan dimanfaatkan.

Misalnya, ketika Felixiaw mencuitkan soal absolutnya iman atas Al Qur’an dan Muhammad, sementara akal tidak diperlukan, banyak kalangan yang langsung bersaksi tanpa memperhitungkan akibat dari reaksi mereka yang berlebihan. Akibatnya, Felixiaw berhasil ‘menggoncang’ dunia maya.

Padahal jika saja yang tidak suka tidak bereaksi berlebihan, Felixiaw tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan, kontroversi. Sementara kawannya membantunya dengan sedikit komentar. Jadilah perseteruan di sosial media yang sangat sengit.

Bagaimana mengatasinya?

Pertama, abaikan. Mereka selama ini ‘sangat’ mungkin melaksanakan misi menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat umum. Kalau diabaikan, tidak ada kontroversi. Maka kegaduhan pun tidak akan terjadi.

Kelihatannya mudah dan gampang, tetapi sulit untuk diwujudkan. Sebab yang pertama muncul adalah emosi, bukan pemahaman.

Kedua, pahami dan jelaskan. Pahami dahulu, setelah itu beri penjelasan. Meskipun mungkin tidak dapat menghindari perdebatan, setidaknya kita tidak gaduh.

Untungnya lebih besar dari pada ruginya. Anda memberi penjelasan, Anda semakin paham akan apa yang Anda jelaskan. Anda menjelaskan, orang lain, minimal, membaca penjelasan Anda dan semoga mengerti.

Ketiga, hindari nyinyir dan hinaan. Sekuat apapun Anda nyinyir, tidak akan mengubah apa-apa. Malah akan semakin membuat Anda berdosa dan memancing debat kusir yang tidak perlu.

Apalagi Anda balik menghina, sangat-sangat tidak berguna sama sekali. Bahkan Anda lebih buruk dari yang mencuit, sebab meluruskan yang salah jauh lebih baik daripada menghinanya. Sudah tahu salah malah ditanggapi dengan cara yang salah.

Saudara-saudari pembaca. Tulisan ini saya buat sebagai salah satu cara yang mungkin membantu. Jika ternyata semakin memperburuk, silakan komentari. Mari kita membiasakan diri berargumentasi dengan akal sehat.
Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s